Yogyakarta, 13–14 November 2025 — Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Sekretariat Daerah menggelar Workshop Petunjuk Teknis Integrasi Kebijakan Nasional AIDS, TBC, dan Malaria (ATM) sebagai bagian dari penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) ATM tahun 2026–2030. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Rohan tersebut diikuti oleh 65 peserta yang berasal dari beragam unsur, termasuk organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, perguruan tinggi, sektor swasta, organisasi profesi, dan organisasi masyarakat sipil—salah satunya Siklus Indonesia sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang aktif dalam isu kesehatan masyarakat.

Acara dibuka dengan sambutan Sekretaris Daerah DIY yang menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menekan laju penularan HIV, TBC, dan malaria. Dalam sambutan tertulis Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan bahwa revitalisasi tim lintas sektor merupakan amanat Pergub No. 111/2024 dan wajib diwujudkan dalam penyusunan RAD ATM periode 2026–2030.

Workshop Petunjuk Teknis Integrasi Kebijakan Nasional AIDS, TBC, dan Malaria (ATM)

Pada sesi pemaparan situasi, Biro Kesejahteraan Rakyat memaparkan perkembangan program ATM. Untuk HIV/AIDS, 87% penyintas telah mengetahui statusnya, 58% menjalani terapi ARV, dan 64% telah mencapai viral load suppression. Untuk TBC, capaian penemuan kasus mencapai 63% dari target 90%, sementara keberhasilan pengobatan berada di angka 83,4%. Cakupan Terapi Pencegahan TBC masih relatif rendah, yakni 42,2%. Sementara itu, seluruh kabupaten/kota di DIY telah mencapai eliminasi malaria, meski tantangan mempertahankan eliminasi tetap besar akibat tingginya mobilitas penduduk dari daerah endemis.

Workshop juga menghadirkan praktik baik dari Kabupaten Sumbawa Barat melalui sambungan daring. Bupati Haji Amar Nurmansyah memaparkan inovasi seperti Program Pemberdayaan Gotong Royong, pemanfaatan lebih dari 700 agen komunitas dalam deteksi dini dan pendampingan, Kartu Sumbawa Barat Maju sebagai sistem integrasi layanan berbasis keluarga, serta kolaborasi multipihak dengan Baznas, perusahaan tambang, dan desa. Praktik tersebut dinilai relevan dan dapat menjadi inspirasi bagi DIY.

Hari pertama ditutup dengan diskusi kelompok berdasarkan tiga tema: HIV/AIDS, TBC, dan malaria. Masing-masing kelompok melakukan review struktur tim lintas sektor, fungsi OPD, evaluasi anggaran, serta proyeksi kebutuhan program.