Siklus Indonesia Ajak Orang Muda Kenali dan Peduli AMR

Jakarta, 11 Agustus 2026 — Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistansi antimikroba menjadi isu kesehatan yang semakin penting untuk dipahami masyarakat. Melihat perlunya keterlibatan generasi muda, Siklus Indonesia menyelenggarakan webinar “Edukasi Antimicrobial Resistance (AMR) untuk Orang Muda” yang diikuti oleh 130 peserta. Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu dr. Hariadi Wisnu Wardana dari Kementerian Kesehatan dan Nora Nindi Arista, S.K.M., M.Sc. dari WHO Indonesia. Dalam perannya sebagai National Professional Officer untuk AMR di WHO Indonesia, Nora Nindi Arista turut berkontribusi dalam penguatan respons terhadap resistansi antimikroba di Indonesia.

Dalam webinar, peserta diajak memahami AMR dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, agar mudah dipahami masyarakat, AMR dapat disebut sebagai “kuman yang makin sulit dilawan obat.” Pencegahannya juga dimulai dari kebiasaan sederhana: gunakan obat antimikroba secara tepat sesuai anjuran tenaga kesehatan, jangan menggunakan obat secara sembarangan, jaga kebersihan, dan cegah penyebaran infeksi.

WHO mencatat bahwa pada 2023, sekitar 1 dari 6 infeksi bakteri yang terkonfirmasi di laboratorium di dunia sudah resisten terhadap antibiotik.

Persoalan ini tidak hanya menjadi urusan tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Penggunaan antimikroba secara tepat, pencegahan infeksi, serta penyebaran informasi yang benar merupakan bagian penting dalam menghadapi AMR. Di Indonesia, penguatan pengawasan penggunaan antimikroba juga menjadi bagian dari upaya membangun respons AMR yang lebih kuat.

Melalui kegiatan ini, Siklus Indonesia mendorong orang muda untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan. Anak muda dapat berperan dengan mempelajari AMR, berdiskusi, membuat konten edukatif, dan membagikan informasi yang benar kepada teman, keluarga, maupun komunitas. Webinar ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun percakapan yang lebih luas tentang AMR sekaligus mendorong aksi nyata di masyarakat. Karena melawan AMR bukan hanya tugas tenaga kesehatan—kita semua punya peran.