Jakarta — Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bersama Forum CSO+ menggelar diskusi bulanan bertajuk “Resistensi Antimikroba (AMR)” di Markas Sehat YOP, Ragunan, Jakarta Selatan pada Jumat 17 Oktober 2025 . Acara ini menghadirkan berbagai pakar dan perwakilan organisasi masyarakat sipil untuk membahas isu AMR yang semakin menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, termasuk Indonesia.
Resistensi antimikroba (AMR) telah menyebabkan jutaan kematian setiap tahun di seluruh dunia dan diperkirakan dapat menewaskan tiga orang setiap menit pada tahun 2050. Di Indonesia, puluhan ribu jiwa telah melayang akibat infeksi yang tidak lagi mempan terhadap obat. Sebagai negara dengan beban tuberkulosis (TB) tertinggi kedua di dunia, ancaman MDR-TB (Multi Drug Resistant Tuberculosis) turut memperparah situasi ini.
Acara yang berlangsung secara hybrid ini dibuka oleh Dr. Esty Febriani, M.Kes dari Yayasan Lentera Kesehatan Nusantara. Diskusi dipandu oleh Vida Parady, MA dari Yayasan Orang Tua Peduli, dengan menghadirkan narasumber utama dr. Purnamawati Sujud, Sp.A(K), MMPaed dan dr. Windhi Kresnawati, Sp.A, keduanya dari Yayasan Orang Tua Peduli.
Turut hadir pula panelis Dian Rosdiana dari Jalin Foundation dan Putri Khatulistiwa dari Community of Practice, Siklus Indonesia, yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan pelibatan generasi muda dalam menyuarakan isu kesehatan.

Kegiatan diskusi dihadiri oleh sekitar 87 peserta secara hybrid.
Dalam diskusi ini, para pembicara menekankan bahwa AMR bukan hanya persoalan medis, tetapi juga menyangkut perilaku sosial, lingkungan, dan kebijakan publik. Mikroba sejatinya telah hidup berdampingan dengan manusia sejak awal sejarah kehidupan. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak bijak membuat banyak mikroba berevolusi menjadi kebal terhadap obat.
Salah satu narasumber, dr. Windhi Kresnawati, Sp.A, memberikan penjelasan menarik mengenai sejarah dan cara kerja bakteri dengan bahasa yang mudah dipahami, bahkan oleh orang awam. Ia menggambarkan bagaimana mikroba berperan penting dalam tubuh manusia, namun dapat menjadi ancaman ketika resistensi muncul akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak.
“Saya seorang anak, saya harus mengawal orang tua saya, supaya juga tidak dikit-dikit misalnya antibiotik. Saya sebagai pasien, saya bisa mengontrol dengan bertanya kepada dokter, dok apakah saya betul-betul butuh antibiotik, dan apakah diagnosis medis saya? Jadi semua orang bisa berkontribusi,” ujar dr. Windhi dalam forum tersebut.
Dari perspektif Siklus Indonesia, keikutsertaan mereka dalam forum ini menjadi kesempatan untuk berbagi praktik baik dalam menggerakkan partisipasi anak muda terhadap isu kesehatan. Melalui program Community of Practice, Siklus aktif melibatkan generasi muda dan para influencer kesehatan di berbagai daerah untuk menyuarakan topik-topik penting seperti resistensi antimikroba dengan cara yang kreatif dan mudah dicerna.
“Target kami adalah anak muda dan influencer yang aktif di media sosial. Kami mencoba mengemas isu yang terasa berat atau tabu menjadi ringan dan mudah dipahami dalam waktu singkat,” ujar Putri Khatulistiwa, perwakilan Siklus Indonesia.
Leave A Comment