Jakarta, 17 Oktober 2025 — Dalam Diskusi Bulanan Forum CSO+ bertajuk “Resistensi Antimikroba (AMR)” yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) di Ragunan, Jakarta Selatan, Siklus Indonesia menjadi salah satu organisasi yang menyoroti pentingnya peran anak muda dan influencer kesehatan dalam mengedukasi publik melalui media digital.

Melalui perwakilannya, Putri Khatulistiwa, Community of Practice Officer di Siklus Indonesia, menjelaskan bahwa platform digital kini memiliki peran besar dalam penyebaran informasi kesehatan yang valid dan mudah dipahami. Siklus Indonesia telah membangun jejaring kreator konten muda bertajuk Community of Practice, yang berfokus pada isu-isu kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, pencegahan pernikahan anak, hingga kampanye anti-FGM (female genital mutilation).

Putri Khatulistiwa, Community of Practice (CoP) Siklus Indonesia

Putri menjelaskan bahwa pendekatan edukasi digital menjadi salah satu kunci dalam menjangkau audiens muda. Melalui jejaring Community of Practice, Siklus Indonesia mengembangkan format “snackable content” — yaitu konten singkat, ringan, dan menarik yang memudahkan masyarakat memahami isu kesehatan dalam waktu singkat.

“Kami belajar bahwa banyak isu kesehatan masih terasa berat dan tabu untuk dibicarakan. Melalui jejaring konten kreator muda, kami mencoba mengemas informasi tersebut dengan cara yang ringan, mudah dipahami, dan tetap valid agar lebih banyak anak muda bisa belajar tanpa merasa digurui,” ujar Putri Khatulistiwa, perwakilan Siklus Indonesia.

Dalam paparannya, Putri juga membagikan pengalaman bagaimana jejaring kreator Community of Practice berhasil menjangkau audiens yang luas di seluruh Indonesia. Dengan total 81 anggota kreator yang memiliki jangkauan hampir satu juta pengikut, Siklus mampu memanfaatkan momentum kampanye seperti International Youth Day dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan untuk menyebarkan pesan-pesan kesehatan berbasis bukti dengan cara yang kreatif dan menarik.

“Target kami adalah anak muda dan para influencer yang aktif di media sosial. Dengan pendekatan ‘snackable content’ — ringkas, ringan, dan relevan — kami ingin membuat informasi kesehatan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati, bukan ditakuti,” tambah Putri.

Melalui pendekatan kolaboratif ini, Siklus Indonesia menunjukkan bagaimana inovasi digital dapat menjadi jembatan penting antara dunia medis dan masyarakat luas. Kampanye yang mereka jalankan bukan hanya meningkatkan literasi kesehatan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang lebih bijak, terutama dalam hal penggunaan obat dan antibiotik.

Siklus berharap, semakin banyak anak muda, tenaga kesehatan, dan kreator digital yang terlibat aktif dalam menyuarakan isu-isu penting ini — agar kesehatan tidak lagi menjadi topik yang tabu, melainkan percakapan sehari-hari yang memberdayakan.